PENDAHULUAN

Temukan pengetahuan mengenai Perkara Cerai disini. Baca & simak sesuai dengan masalah yang anda hadapi.

Jika anda tidak ingin membaca beberapa tulisan saya yang bersifat teoritis terkait dengan Undang-Undang Perkawinan, Undang-Undang Peradilan Agama, Kompilasi Hukum Islam karena memang anda sedang menjalani atau akan menjalani sidang pemeriksaan perkara anda, maka silahkan anda langsung masuk ke DAFTAR ISI di bawah ini lalu Klik artikel tentang "PROSEDUR PERCERAIAN" sesuai kebutuhan yang saya bagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu :

1. Artikel : GUGAT CERAI : Bagi anda yang beragama ISLAM Seorang ISTRI yang akan menggugat perceraian dari SUAMI.

2. Artikel : CERAI TALAK : Bagi anda yang beragama ISLAM seorang SUAMI yang akan memohon izin untuk menjatuhkan talak kepada ISTRI.

3. Artikel : GUGATAN PERCERAIAN : Bagi anda yang beragama NON MUSLIM seorang SUAMI atau seorang ISTRI yang memiliki alasan / alasan-alasan yang cukup untuk melakukan perceraian.

Perlu kita ketahui, bahwa meningkatnya perkara perceraian dewasa ini sungguh membuat miris hati, walau sesungguhnya sulit bagi seseorang memutus suatu ikatan Perkawinan. Belum lagi dampaknya terhadap anak-anak & keluarga dari kedua belah pihak berperkara.

Kemudian, dalam pelaksanaannya banyak para Pencari Keadilan harus berhadapan dengan praktek-praktek menyimpang dari oknum-oknum Birokrasi. Juga acap ditemukan bentuk-bentuk intimidasi, tekanan, & penyalahgunaan wewenang serta penyelewengan Hukum Acara dari yang seharusnya.

Mengingat hal-hal itu & betapa masyarakat masih buta hukum, maka Blog ini dapat memberi alternatif jalan keluar serta menjadi pilihan pembuka wawasan bersama.

Semoga bermanfaat...!
dan Selamat Bersidang.

ALASAN-ALASAN PERCERAIAN

Menurut ketentuan hukum yang berlaku, di Indonesia Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan sbb :


  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) Tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang mebahayakan pihak yang lain
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tida dapat menjalankan kewajibannya sebagai Suami / Istri
  6. Antara Suami dan Istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.


Selanjutnya dalam peraturan lain, yaitu dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 juncto Keputusan Menteri Agama RI Nomor 154 Tahun 1991 Tentang Pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Tanggal 10 Juni 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam, untuk selanjutnya disenbut Kompilasi Hukum Islam, khusus untuk mereka yang beragama Islam alasan Perceraian ditambah 2 (dua) hal lagi yaitu sbb :


  1. Suami melanggar Ta'lik Talak
  2. Peralihan agama atau Murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan yang terjadi dalam rumah tangga


(Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-UndangNomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan)


Sedangkan isi / bunyi dari Shigat Ta'lik Talak adalah sbb :


"Sesudah Akad Nikah Saya berjanji dengan sepenuh hati bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang Suami, dan akan saya pergauli Istri saya dengan baik (muasyarah bil ma'ruf) menurut ajaran syariat Islam. Selanjutnya saya membaca Shigat Ta'lik atas Istri saya tersebut sebagai berikut :


Sewaktu-waktu saya :


  1. Meninggalkan Istri saya 2 (dua) Tahun berturut-turut
  2. atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) Bulan lamanya,
  3. atau saya menyakiti badan / jasmani Istri saya
  4. atau saya membiarkan (tidak memerdulikan) Istri saya 6 (enam) Bulan lamanya, .


kemudian Istri saya tidak ridha dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh Pengadilan tersebut, dan Istri saya membayar uang sebesar Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai Iwadh (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya"


Alasan-alasan sebagaimana tersebut diatas, bukan alasan secara keseluruhan harus ada / harus terpenuhi semua alasan-alasan tersebut untuk mengajukan Perceraian, melainkan cukup salah satu atau beberapa saja diantara alasan-alasan tersebut saja. Sehingga sifatnya adalah relatif alternatif.


Jadi jika misalnya terpenuhi unsur terjadinya perselisihan / pertengkaran yang berlangsung terus menerus dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga anda saja, maka itu sudah cukup dapat menjadi alasan Perceraian diajukan ke Pengadilan yang berwenang.

4 komentar:

  1. bukti apa saja yang bisa diterima oleh perngadilan negeri dalam hal pembuktian perzinahan?

    BalasHapus
  2. yang saya dengar biaya perceraian itu mahal dan dipersulit kenapa? padahal apabila sudah sering terjadi perselisihan apabila dipertahankan juga tidak akan baik

    BalasHapus
  3. bagaimana ketentuan hak wali anak dan pembagian harta gono gini?

    BalasHapus
  4. Bagaimana akibat hukum dari cerai talak tanpa kehadiran tergugat menurut uu no. 1 tahun 1974?

    BalasHapus

Silahkan tuliskan komentar atau tanggapan di bagian ini. Mohon pergunakan bahasa yang baik, singkat namun mudah dipahami secara umum. Jangan gunakan singkatan2 kata yang tidak populer sehingga akan menghindari kami dari salah interprestasi.

Selanjutnya komentar anda akan kami tanggapi sesegera mungkin.

Salam hormat,
JAMEMAGAM